The End of Science

Posted: Agustus 25, 2010 in Pendidikan
Tag:,

Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of Scientific Age

Introduksi: Mencari ‘Jawaban Akhir’

Pada musim panas th 1989, dalam perjalanan ke pedalaman negara    bagian New York, saya mulai memikirkan secara serius kemungkinanbahwa sains, sains murni, telah berakhir. Saya terbang keUniversitas Syracuse untuk mewawancarai Roger Penrose, seorang ahli fisika Inggris yang menjadi dosen tamu di sana. Sebelum bertemu Penrose, saya bergulat membaca bukunya yang padat dan rumit, “The   Emperor’s New Mind”, yang secara mengagetkan menjadi bestseller beberapa bulan kemudian, setelah mendapat pujian di New York Times Book Review. Di dalam buku itu, Penrose mengamati panorama luas sains modern dan melihat kekurangannya. Menurut Penrose, pengetahuan, sekalipun sangat kuat dan kaya, tidak mungkin    menjelaskan misteri eksistensi yang terakhir, yakni kesadaran manusia.

Penrose berspekulasi bahwa kunci dari kesadaran mungkin tersembunyi di celah antara kedua teori utama ilmu fisika modern, yakni    mekanika kuantum, yang menguraikan elektromagnetisme dan gaya-gaya nuklir, dan relativitas umum, teori Einstein tentang gaya berat. Banyak ahli fisika, mulai dengan Einstein, telah mencoba dan gagal memadukan mekanika kuantum dan relativitas umum ke dalam suatu teori “penyatuan” yang tunggal, tanpa sambungan. Di dalam bukunya, Penrose membuat sketsa tentang bagaimana kira-kira tampaknya teori penyatuan itu, dan bagaimana teori itu dapat menghasilkan pikiran. Skemanya, yang melibatkan efek-efek kuantum dan gravitasional yang eksotik, yang meresapi otak, terasa kabur, berliku-liku, tanpa didukung bukti-bukti dari ilmu fisika maupun sains syaraf. Tetapi jika kelak ternyata benar dari segi mana pun, itu akan merupakan pencapaian yang monumental, sebuah teori yang sekaligus akan menyatukan ilmu fisika dan memecahkan salah satu masalah filosofis yang paling tangguh, yakni hubungan antara jiwa dan badan. Saya pikir, ambisi Penrose itu saja sudah cukup menjadikannya tokoh yang pantas untuk diprofilkan di majalah Scientific American, yang mempekerjakan saya sebagai staf penulisnya.

Ketika saya tiba di bandara Syracuse, Penrose telah menunggu saya. Ia seorang yang mirip malaikat, berambut hitam ikal, dan tampak sekaligus tidak peduli dan sangat waspada. Sementara ia mengendarai mobil yang membawa kami ke kampus Syracuse, ia terus-menerus bimbang apakah ia tidak salah jalan. Ia tampak tenggelam di dalam    berbagai misteri. Saya mendapati diri saya dalam kedudukan yang    menggelisahkan dengan mengusulkan agar ia berbelok ke sini dan berputar ke sana, sekalipun saya belum pernah mengunjungi Syracuse. Alhasil, sekalipun kami berdua sama-sama tidak tahu jalan, kami    berhasil mencapai dengan selamat gedung tempat Penrose bekerja. Ketika memasuki kamar kerja Penrose, kami mendapati seorang rekan kerjanya meninggalkan sekaleng aerosol yang berwarna cerah bertuliskan “Superstring” di atas mejanya. Ketika Penrose memencet tombol di tutup kaleng itu, suatu bahan semacam spageti berwarna hijau meloncat dari kaleng itu melintasi ruangan.

Penrose tersenyum saja melihat gurauan rekannya itu. ‘Superstring’ bukan hanya nama suatu mainan anak-anak, melainkan juga nama dari    suatu partikel hipotetik yang mirip benang dan sangat kecil, yang diduga adanya dalam suatu teori fisika populer. Menurut teori itu, gerakan benang-benang ini di dalam ruang berdimensi sepuluh menghasilkan semua materi dan energi di alam semesta ini dan bahkan ruang dan waktu itu sendiri. Banyak ahli fisika terkemuka di dunia merasa bahwa teori superstring mungkin merupakan teori penyatuan yang mereka cari selama ini; beberapa di antara mereka malah menamakannya teori segala sesuatu. Penrose bukanlah termasuk orang yang percaya itu. “Itu tidak mungkin benar,” katanya. “Bukan itu jawaban yang saya harapkan.” Saya mulai menyadari, sementara Penrose berbicara, bahwa baginya ‘jawaban’ itu lebih daripada sekadar teori fisika, sekadar cara mengorganisasikan data dan meramalkan peristiwa. Ia bicara tentang ‘Jawaban Akhir’: rahasia    kehidupan, jawaban terhadap teka-teki alam semesta.

Penrose mengakui dirinya seorang Platonis. Para ilmuwan tidak menciptakan kebenaran; mereka menemukannya. Kebenaran-kebenaran yang sejati memancarkan keindahan, kelurusan, suatu kualitas yang terlihat jelas, yang memberinya kekuatan ilham. Menurut Penrose, teori superstring tidak memiliki sifat-sifat ini. Ia mengakui bawah “saran-saran” yang dikemukakannya di dalam “The Emperor’s New Mind” yang belum pantas disebut ‘teori’, katanya agak kedodoran. Mungkin saja kelak ternyata salah, bahkan hampir pasti salah di    dalam detailnya. Saya bertanya, apakah dengan berkata demikian, Penrose menyiratkan bahwa pada suatu hari kelak para ilmuwan akan menemukan ‘Jawaban Akhir’, dan dengan demikian mengakhiri seluruh pencarian ini?

Tidak seperti sementara ilmuwan terkemuka, yang tampak menganggap sikap berhati-hati sama dengan kelemahan, Penrose malah berpikir sejenak sebelum menjawab, dan bahkan berpikir sambil menjawab.”Saya rasa kita masih jauh,” katanya perlahan-lahan, sambil

memandang keluar jendela kamar kerjanya, “tapi itu tidak berarti bahwa pada suatu tahap tertentu tidak mungkin terjadi perkembangan yang pesat.” Ia merenung lagi. “Saya rasa ini menunjuk ke arah adanya ‘jawaban akhir’,” lanjutnya, “sekalipun mungkin itu terlalu pesimistik.” Kalimatnya yang terakhir itu membuat saya tertegun. Apanya yang pesimistik kalau seorang pencari kebenaran mengira bahwa kebenaran mungkin tercapai, tanya saya. “Memecahkan misteri memang baik,” jawab Penrose. “Dan jika semua misteri telah terpecahkan, bagaimana pun juga sedikit banyak akan membosankan.”Lalu ia bergumam, seolah-olah terkejut oleh keanehan kata-katanya sendiri. Lama setelah meninggalkan Syracuse, saya merenungkan kata-kata Penrose. Mungkinkah sains berakhir? Dapatkah para ilmuwan mempelajari segala sesuatu yang dapat dipelajari? Dapatkah mereka mengenyahkan misteri dari alam semesta? Sukar bagi saya membayangkan dunia tanpa sains, dan itu bukan hanya karena pekerjaan saya bergantung padanya. Saya menjadi penulis sains sebagian besar disebabkan karena saya menganggap sains—sains murni, yakni mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri–sebagai upaya manusia yang paling mulia dan paling bermakna. Kita ada di sini untuk memahami mengapa kita ada di sini. Tujuan apa lagi yang lebih pantas bagi manusia?

Saya tidak selamanya tergila-gila pada sains. Di kolese, saya melewati suatu tahap ketika kritik sastra saya lihat sebagai kegiatan intelektual yang paling menggairahkan. Namun, pada suatu larut malam, sehabis minum banyak kopi, dan menghabiskan berjam-jam menulis suatu tafsiran baru terhadap karya James Joyce Ulysses, saya mengalami krisis kepercayaan. Berbagai orang pandai telah berdebat selama berpuluh tahun tentang makna Ulysses. Tetapi salah satu pesan kritisisme modern, dan sastra modern, adalah bahwa semua naskah bersifat “ironik”; semua memiliki makna ganda, tidak satu pun definitif. Oedipus Rex, Inferno, bahkan Alkitab dalam suatul makna hanya sekadar “bercanda”, tidak perlu dianggap terlalu literal. Argumentasi tentang makna tidak pernah dapat terselesaikan, oleh karena satu-satunya makna sejati dari suatu naskah adalah naskah itu sendiri. Sudah tentu, pesan ini pun berlaku untuk para kritikus itu sendiri. Yang tinggal akhirnya adalah regresi tafsir-tafsir tanpa akhir, dan tidak satu pun darinya merupakan kata akhir. Tetapi setiap orang tetap berdebat! Untuk apa? Agar masing-masing kritikus tampak lebih cerdik, lebih menarik, daripada yang lain? Semuanya tampak tidak berarti lagi. Sekalipun bidang studi utama saya adalah bahasa Inggris, saya mengambil sekurang-kurangnya satu mata kuliah sains atau matematika setiap semester. Memecahkan soal-soal kalkulus atau fisikamerupakan pergantian suasana yang menyenangkan dari tugas-tugas bidang humanities yang kacau; saya memperoleh kepuasan yang mendalam dalam menemukan jawaban yang benar dari suatu soal. Semakin saya mengalami frustrasi terhadap sudut pandang ironik dari sastra dan kritik sastra, semakin saya mengapresiasikan pendekatan sains yang lugas dan tidak omong-kosong. Para ilmuwan mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan memecahkannya dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh para kritikus, filsuf, dan ahli sejarah.Teori-teori diuji secara eksperimental, dibandingkan dengan realitas, dan yang tidak sesuai dibuang. Kekuatan sains tidak dapat dimungkiri: sains telah memberikan kepada kita komputer dan pesawat jet, vaksin dan bom termonuklir, berbagai teknologi yang, baik atau buruk, telah mengubah jalan sejarah. Sains, lebih dari modus pengetahuan lainnya–kritik sastra, filsafat, seni, agama–menghasilkan pencerahan yang lestari tentang hakikat benda-benda. Sains telah membawa kita sampai sejauh ini. Pencerahan-mini saya pada akhirnya membawa saya menjadi penulis sains. Peristiwa itu juga mewariskan kepada saya suatu kriteria sains: sains menggarap masalah-masalah yang dapat dijawab, setidak-tidaknya dalam prinsip, asal saja tersedia cukup waktu dan sumber daya.

Sebelum saya bertemu dengan Penrose, saya menganggap sains itu tidak berujung, bahkan tidak terbatas. Kemungkinan bahwa para ilmuwan pada suatu hari kelak menemukan suatu kebenaran yang begitu hebat sehingga tidak memerlukan penyelidikan-penyelidikan lebih jauh saya anggap paling-paling isapan jempol, atau semacam hiperbola yang dibutuhkan untuk menjual sains (atau buku-buku sains) kepada masyarakat awam. Kesungguhan, dan ambivalensi, dari Penrose dalam mengkaji prospek suatu teori final memaksa saya menilai kembali pandangan-pandangan saya tentang masa depan sains. Sementara waktu berjalan, saya menjadi terobsesi dengan masalah itu. Apakah batas-batas sains itu, jika batas itu ada? Apakah sains tidak terbatas, ataukah ia fana seperti kita? Jika fana, apakah akhir dari sains sudah terlihat? Sudah menjelang?

Setelah pembicaraan saya yang pertama dengan Penrose, saya mencari ilmuwan-ilmuwan lain yang mengadu otak mereka dengan batas pengetahuan: para ilmuwan fisika partikel, yang bermimpi tentang suatu teori terakhir dari materi dan energi; para ahli kosmologi, yang mencoba memahami secara tepat bagaimana dan kapan alam semesta kita tercipta; para ahli biologi evolusioner, yang mencoba menetapkan bagaimana asal mula kehidupan, serta hukum-hukum apa yang mengatur pemekarannya kemudian; para ahli neurosains yang meneropong proses-proses dalam otak yang menghasilkan kesadaran; para penjelajah khaos dan kompleksitas, yang berharap dengan komputer dan teknik-teknik matematis baru dapat menghidupkan kembali sains. Saya juga bicara dengan para filsuf, termasuk beberapa orang yang dikabarkan meragukan apakah sains akan pernah mencapai kebenaran yang objektif dan mutlak. Saya menulis sejumlah artikel tentang ilmuwan dan filsuf ini untuk majalah Scientific American.

Ketika pertama kali saya berpikir untuk menulis sebuah buku, saya membayangkannya sebagai suatu seri potret, yang menampilkan sampai ke bisul-bisulnya, dari semua pencari kebenaran dan penolak kebenaran yang dapat saya wawancarai. Saya bermaksud menyerahkan kepada pembaca untuk menentukan sendiri, mana ramalan masa depan sains yang masuk akal dan mana yang tidak. Bagaimana pun juga, siapakah yang sungguh-sungguh tahu, apakah batas terakhir dari pengetahuan? Tetapi berangsur-angsur, saya mulai membayangkan bahwa saya tahu; saya merasa yakin bahwa satu skenario tertentu lebih mungkin ketimbang semua yang lain. Saya memutuskan untuk tidak menganut keobyektifan jurnalistik, dan menulis sebuah buku yang terang-terangan menilai, bersifat argumentatif, dan personal. Sementara tetap berfokus pada ilmuwan dan filsuf secara individual, buku ini akan menyajikan pula pandangan saya. Saya merasa pendekatan itu akan lebih sesuai dengan keyakinan saya bahwa kebanyakan pernyataan tentang batas-batas pengetahuan pada akhirnya bersifat sangat idiosinkratik (bersifat khas individual).

Sekarang sudah jelas bahwa ilmuwan bukanlah sekadar mesin penghasil pengetahuan; mereka dituntun oleh emosi dan intuisi di samping penalaran dingin dan perhitungan. Saya mendapati, ilmuwan jarang menunjukkan sifat manusiawinya, begitu terombang-ambing oleh

ketakutan dan keinginan mereka, seperti ketika mereka berhadapan dengan batas-batas pengetahuan. Para ilmuwan yang terbesar semata-mata berharap untuk menemukan kebenaran-kebenaran tentang alam semesta (di samping memperoleh ketenaran, hadiah, dan jabatan di perguruan tinggi, serta memperbaiki kehidupan umat manusia); mereka ingin tahu. Mereka berharap, dan percaya, bahwa kebenaran [terakhir] dapat dicapai, bukan sekadar ideal atau asimtot (pendekatan), yang mereka dekati terus-menerus. Mereka juga percaya, seperti saya juga, bahwa pencarian pengetahuan adalah kegiatan manusia yang paling mulia dan paling berarti. Ilmuwan yang menganut kepercayaan ini sering kali dituduh arogan. Beberapa memang arogan, bahkan sangat arogan. Tetapi saya mendapati, banyak yang lain yang merasa cemas alih-alih arogan. Dewasa ini adalah masa-masa sulit bagi pencari kebenaran. Kegiatan ilmiah terancam oleh kaum teknofob (orang yang fobi terhadap teknologi), pejuang hak asasi binatang, kaum fundamentalis agama, dan yang paling penting, para politisi kikir. Berbagai kendala sosial, politis, dan ekonomis membuat lebih sukar untuk mempraktekkan sains, khususnya sains murni, di masa depan. Lagipula, sains sendiri, sambil maju, selalu menetapkan batas-batas pada kekuatannya sendiri. Teori relativitas khusus Einstein melarang penyebaran materi atau bahkan informasi pada kecepatan lebih dari kecepatan cahaya; mekanika kuantum mendalilkan bahwa pengetahuan kita tentang alam mikro akan selalu tidak pasti; teori khaos menguatkan bahwa, sekalipun tanpa ketidakpastian kuantum, banyak fenomena tidak mungkin diramalkan; dalil ketidaklengkapan Kurt Goedel memustahilkan penyusunan suatu deskripsi matematis yang lengkap dan konsisten dari realitas. Dan biologi evolusioner terus-menerus mengingatkan kita bahwa kita adalah hewan, yang didesain oleh seleksi alamiah bukan untuk menemukan kebenaran-kebenaran mendalam tentang alam semesta, melainkan untuk berkembang biak.

Kaum optimis, yang berpendapat bahwa mereka dapat mengatasi semua batas-batas ini, masih harus menghadapi lawan lain, mungkin yang paling merisaukan. Apakah yang akan dilakukan oleh para ilmuwan, jika mereka berhasil mengetahui apa yang dapat diketahui? Lalu, apakah tujuan hidup sesudah itu? Apa tujuan umat manusia sesudah itu? Roger Penrose mengungkapkan kecemasannya terhadap dilema ini ketika ia menyebut impiannya tentang suatu teori terakhir sebagai pesimistik. Menghadapi masalah-masalah yang menggelisahkan ini, tidak heran bila banyak ilmuwan yang saya wawancarai untuk buku ini tampak tercekam oleh kebimbangan yang mendalam. Tetapi malaise mereka, menurut saya, mempunyai akar lain yang lebih langsung. Jika kita peracya akan sains, kita harus menerima kemungkinan—atau kemungkinan besar–bahwa zaman penemuan sains yang besar telah lewat. Yang saya maksud dengan sains bukanlah sains terapan, melainkan sains yang paling murni dan paling besar, yakni upaya primordial manusia untuk memahami alam semesta dan tempat kita di dalamnya. Penelitian lebih jauh mungkin tidak akan memberikan lagi pencerahan dan revolusi besar, melainkan sekadar hasil-hasil tambahan yang makin lama makin kecil. Kecemasan Pengaruh Ilmiah

Dalam mencoba memahami suasana hati para ilmuwan modern, saya mendapati bahwa ide-ide dari kritik sastra dapat dimanfaatkan. Dalam esainya pada th 1973 yang berpengaruh, “The Anxiety of Influence” (Kecemasan Pengaruh), Harold Bloom menyamakan penyair modern dengan Setan dalam karya Milton, “Paradise Lost”. Seperti Setan yang berjuang untuk menampilkan individualitasnya dengan menantang kesempurnaan Tuhan, begitu pula penyair modern terlibat pergulatan seperti Oedipus untuk menemukan jatidirinya dalam hubungannya dengan Shakespeare, Dante, dan para master besar lainnya. Upaya itu mau tidak mau akan sia-sia, kata Bloom, karena tidak ada penyair bisa berharap untuk mendekati, apalagi melampaui, kesempurnaan para pendahulu itu. Semua penyair modern pada dasarnya adalah tokoh-tokoh tragis, pendatang belakangan. Para ilmuwan modern pun pendatang belakangan, dan beban mereka jauh lebih berat ketimbang para penyair. Para ilmuwan tidak hanya harus menerima “King Lear” dari Shakespeare, tapi juga hukum-hukum gerak     dari Newton, teori seleksi alamiah dari Darwin, dan teori relativitas umum dari Einstein. Teori-teori ini bukan hanya indah; mereka juga benar, benar secara empiris, sedemikian rupa tidak dapat ditiru oleh suatu karya seni. Kebanyakan peneliti terpaksa mengakui ketidakmampuan mereka untuk melampaui apa yang oleh Bloom disebut “kejengahan suatu tradisi yang sudah menjadi begitu kaya sehingga tidak membutuhkan apa-apa lagi.” Mereka mencoba memecahkan apa yang secara merendahkan disebut oleh filsuf ilmu Thomas Kuhn sebagai “teka-teki” (puzzles), yakni problem-problem yang pemecahannya sekadar mendukung paradigma yang ada (tidak menghasilkan paradigma baru). Mereka sekadar memperhalus dan menerapkan temuan-temuan rintisan yang brilyan dari para pendahulu mereka. Mereka mencoba mengukur massa quark dengan lebih teliti, atau menetapkan bagaimana suatu bagian tertentu dari DNA menuntun perkembangan otak embrionik. Sedangkan yang lain menjadi apa yang dilecehkan oleh Bloom sebagai “sekadar pemberontak,     penjungkir-balik kekanak-kanakan dari kategori-kategori moral konvensional.” Para pemberontak ini mengecilkan arti teori-teori ilmiah yang dominan sebagai rekayasa sosial yang rapuh, alih-alih sebagai deskripsi dari alam yang teruji secara ketat.     Apa yang oleh Bloom disebut “penyair kuat” menerima kesempurnaan para pendahulu mereka, namun berupaya melampauinya dengan berbagai muslihat, termasuk penyalahtafsiran secara halus terhadap karya-karya pendahulu mereka; hanya dengan demikian para penyair modern dapat membebaskan diri dari pengaruh masa lampau yang melumpuhkan. Terdapat pula para “ilmuwan kuat”, yakni mereka yang mencoba menyalahtafsirkan, dan dengan demikian mengatasi, mekanika kuantum atau teori “big bang” atau evolusi Darwin. Roger Penrose adalah seorang ilmuwan kuat. Untuk sebagian besar, ia dan orang-orang lain sejenisnya hanya mempunyai satu pilihan: yakni menjalankan sains dengan cara yang spekulatif, pasca-empiris, yang saya sebut “sains ironis”. Sains ironis menyerupai kritik sastra dalam hal menyajikan sudut pandang-sudut pandang, opini-opini, yang setidak-tidaknya menarik, yang merangsang komentar lebih lanjut. Tetapi sains ironis tidak mendekat kepada kebenaran. Ia tidak dapat mencapai kejutan-kejutan yang dapat dibuktikan secara empiris, yang memaksa para ilmuwan mengadakan perbaikan penting dalam deskripsi mereka tentang realitas.

Strategi yang paling sering dipakai oleh kaum ilmuwan kuat adalah menampilkan semua kelemahan dari pengetahuan ilmiah yang ada sekarang, semua pertanyaan yang belum terjawab. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah terjawab secara definitif oleh karena keterbatasan sains manusiawi. Bagaimana persisnya alam semesta ini tercipta? Mungkinkah alam semesta kita merupakan satu saja dari sejumlah alam semesta yang tak terbatas banyaknya? Mungkinkah quark dan elektron terdiri dari partikel-partikel yang lebih kecil lagi, dan seterusnya ada infinitum? Apakah makna sesungguhnya dari mekanika kuantum? (Kebanyakan pertanyaan tentang makna hanya dapat dijawab secara ironis, sebagaimana diketahui dalam kritik sastra.) Biologi juga mempunyai teka-tekinya sendiri yang tak terpecahkan. Bagaimana persisnya kehidupan mulai di bumi? Apakah terjadinya kehidupan dan perjalanan evolusinya seperti yang kita lihat ini bersifat niscaya (tidak mungkin ada alternatif lain)?

Pelaku sains ironis mempunyai satu kelebihan dibandingkan penyair kuat: yakni selera pembaca awam terhadap “revolusi” ilmiah. Sementara sains empiris membatu, para jurnalis seperti saya, yang memuaskan kehausan masyarakat, akan mengalami tekanan yang semakin berat untuk menampilkan teori-teori yang dianggap melampaui mekanika kuantum atau teori “big bang” atau seleksi alamiah. Bagaimana pun juga, para jurnalislah yang sebagian besar bertanggung-jawab bagi terciptanya kesan populer bahwa bidang-bidang seperti khaos dan kompleksitas mewakili sains baru yang lebih tinggi daripada metode reduksionis dari Newton, Einstein, dan Darwin. Para jurnalis, termasuk saya, telah membantu ide-ide tentang kesadaran dari Roger Penrose diterima oleh kalangan yang jauh lebih luas dari yang sepatutnya, menilik kedudukannya yang lemah di kalangan ahli neurosains profesional.

Saya tidak bermaksud menyiratkan bahwa sains ironis tidak punya nilai. Jauh dari itu. Setidak-tidaknya, sains ironis, seperti juga seni dan filsafat yang besar, atau bahkan kritik sastra, membangkitkan kekaguman dalam diri kita; ia memelihara ketakjuban kita di hadapan misteri alam semesta. Tetapi ia tidak dapat mencapai cita-cita mengatasi kebenaran yang telah kita miliki. Dan jelas ia tidak bisa memberikan kepada kita–malah, ia melindungi kita dari–“Jawaban Terakhir”, yakni suatu kebenaran yang begitu kuat sehingga melenyapkan keingintahuan kita untuk selama-lamanya. Bagaimana pun juga, sains sendiri mendalilkan bahwa kita sebagai manusia selamanya harus puas dengan kebenaran-kebenaran sebagian.

Di dalam sebagian besar dari buku ini, saya akan memeriksa sains seperti yang dipraktekkan pada hari ini, oleh manusia. (Bab 2 membahas filsafat.) Dalam dua bab terakhir, saya membahas kemungkinan–yang dikemukakan oleh ilmuwan dan filsuf yang jumlahnya mengejutkan–bahwa pada suatu hari kelak kita manusia akan menciptakan mesin yang cerdas yang dapat mengatasi pengetahuan kita yang kerdil. Dalam versi favorit saya tentang skenario ini, mesin-mesin akan mengubah seluruh kosmos ini menjadi jaringan pemroses informasi yang terpadu. Semua materi menjadi batin. Jelas,     proposal ini bukan sains, melainkan impian indah. Namun itu     mengangkat sejumlah pertanyaan menarik, pertanyaan yang biasanya     dibahas oleh para ahli teologi. Apakah yang akan dilakukan oleh sebuah komputer kosmik yang mahakuasa? Apakah yang akan dipikirkannya? Saya hanya dapat membayangkan satu kemungkinan. Ia akan mencoba menemukan “Jawaban Terakhir”, jawaban yang tersembunyi di balik semua pertanyaan, seperti seorang aktor yang memainkan semua peran dari suatu lakon: Mengapa ada, dan bukan tidak ada? Di dalam upayanya menemukan “Jawaban Terakhir” terhadap “Pertanyaan     Terakhir”, batin universal itu mungkin menemukan batas terakhir dari pengetahuan.

_________________________________________________________________

Diterjemahkan dari John Horgan, “The End of Science: Facing the Limits of

Knowledge in the Twilight of Scientific Age”, 1997,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s